4 AYAT AL QURAN TENTANG RAMADHAN

4 AYAT AL QURAN TENTANG RAMADHAN

 

Ayat Al Quran Tentang Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan. Barang siapa yang memasuki bulan Ramadhan, maka diwajibkan bagi mereka untuk melaksanakan puasa. Puasa Ramadhan disyariatkan setelah rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah yaitu pada tahun kedua Hijriyah. Adapun dalil al Quran yang berkaitan dengan Ramadhan adalah sebagai berikut :
 
Pertama : QS. Al Baqarah : 183
 
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

183. Allah mengabarkan tentang segala yang Dia karuniakan kepada hamba-hambaNya dengan cara wajibkan atas mereka berpuasa sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa itu atas umat-umat terdahulu, karena puasa itu termasuk di antara syariat dan perintah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman.


Puasa juga menambah semangat bagi umat ini yaitu dengan melompat lomba dengan umat lain dalam menyempurnakan amal perbuatan dan bersegera menuju kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan puasa itu juga bukanlah suatu perkara sulit yang khusus bagi kalian.


Kemudian Allah menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, “Agar kamu bertakwa,” karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena berpuasa dalam merealisasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.


Dan diantara bentuk yang meliputi ketaqwaan dalam puasa itu adalah bahwa orang yang berpuasa akan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan Jima, dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsunya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala dalam meninggalkan hal tersebut. Ini merupakan bagian ketakwaan.


Dan diantaranya juga adalah bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, maka dia meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah melihatnya. Yang lain bahwasanya puasa itu mempersempit jalan masuk setan, karena setan itu berjalan dalam tubuh manusia seperti jalannya darah, maka puasa akan melemahkan pengaruhnya dan meminimumkan kemaksiatan.


Diantaranya juga bahwa seorang yang berpuasa biasanya akan bertambah ketaatannya, dan ketaatan itu adalah gambaran dari ketakwaan. Yang lainnya lagi adalah bahwa orang yang kaya bila merasakan susahnya kelaparan, pasti ia menghibur kaum miskin, dan ini pun termasuk gambaran ketakwaan.


Referensi : https://tafsirweb.com/687-surat-al-baqarah-ayat-183.html

 
Kedua : QS. Al Baqarah : 184
 
 
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗووَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَييْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 184)

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

184. Ketika Allah menyebutkan kewajiban puasa bagi mereka, Dia mengabarkan bahwa puasa itu hanya pada hari-hari yang tertentu atau sedikit sekali dan sangat mudah, kemudian Allah memudahkan puasa itu dengan kemudahan lainnya. Dia berfirman, “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” Pada umumnya hal itu karena adanya kesulitan, sehingga Allah memberikan kemudahan bagi keduanya untuk berbuka, dan ketika menjadi suatu keharusan untuk mewujudkan kemaslahatan puasa bagi setiap orang yang beriman, maka Allah memerintahkan kepada mereka berdua agar mengganti puasanya itu pada hari-hari yang lain apabila penyakitnya telah sembuh dan berakhirnya perjalanan dan adanya istirahat.


Dalam firmanNya, “Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain,” terkandung dalil yang menunjukkan bahwa ia harus mengganti sejumlah hari bulan Ramadan secara sempurna ataupun tidak, dan bahwa ia juga boleh mengganti hari-hari yang panjang lagi panas dengan beberapa hari yang pendek lagi sejuk seperti kebalikannya. Dan FirmanNya “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa),” maksudnya, mereka tidak mampu berpuasa, “membayar Fidyah” dari setiap hari yang mereka batalkan, “memberi makan seorang miskin.” Hal ini pada awal-awal kewajiban berpuasa ketika mereka belum terbiasa berpuasa dan saat itu kewajiban tersebut adalah suatu yang harus dilakukan oleh mereka yang akhirnya sangat berat bagi mereka untuk melakukannya. Lalu Allah Rabb Yang Maha bijaksana memberikan jalan yang paling mudah bagi mereka, Dia memberikan pilihan bagi orang yang tidak mampu berpuasa antara melakukan puasa atau itulah yang paling baik dan utama atau memberi makan.


Oleh karena itu Allah berfirman, “Dan berpuasa lebih baik bagimu,” kemudian setelah itu Allah menjadikan puasa itu harus dilakukan oleh orang yang mampu sedangkan orang yang tidak mampu, boleh berbuka lalu menggantinya pada hari yang lain. Ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang yang tidak mampu yaitu terbebani dan merasa sangat berat sekali untuk melaksanakannya seperti orang tua yang renta dalam membayar Fidyah untuk tiap hari kepada seseorang miskin, dan inilah yang benar.


Referensi : https://tafsirweb.com/689-surat-al-baqarah-ayat-184.html
 

Ketiga : QS. Al Baqarah : 185
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْققَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 185)

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

185. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran,” yaitu puasa yang diwajibkan atas kalian adalah bulan Ramadan yaitu bulan yang agung, bulan yang di mana kalian memperoleh didalamnya kemuliaan yang besar dari Allah, yaitu Alquran al-karim yang mengandung petunjuk bagi kemaslahatan kalian, baik untuk agama maupun dunia kalian, dan sebagai penjelas kebenaran dengan sejelas-jelasnya, sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil, petunjuk dan kesesatan, orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang sengsara, maka patutlah keutamaan ini bagi bulan tersebut, dan hal ini merupakan kebajikan Allah terhadap kalian, dengan menjadikan bulan ini sebagai suatu musim bagi hamba yang diwajibkan berpuasa padanya.


Lalu ketika Allah menetapkan hal itu, menjelaskan keutamaannya dan hikmah Allah dalam pngkhususannya itu, Dia berfirman, “Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” Ini merupakan keharusan berpuasa atas orang yang mampu, sehat lagi hadir, dan ketika nasakh itu memberikan pilihan antara berpuasa dan membayar Fidyah saja, ia mengulangi kembali keringanan bagi orang yang sakit dan musafir agar tidak diduga bahwa keringanan tersebut juga dinasakh, Allah berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” Maksudnya, Allah menghendaki hal yang memudahkan bagi kalian jalan yang menyampaikan kalian kepada RidhoNya dengan kemudahan yang paling mudah dan meringankan nya dengan keringanan yang paling ringan.
Oleh karena itu, segala perkara yang diperintahkan oleh Allah atas hamba-hambaNya pada dasarnya adalah sangat mudah sekali, namun bila terjadi suatu rintangan yang menimbulkan kesulitan, maka Allah akan memudahkannya dengan kemudahan lain, yaitu dengan menggugurkannya atau menguranginya dengan segala bentuk pengurangan, dalam hal ini adalah suatu hal yang tidak mungkin dibahas perinciannya, karena perinciannya merupakan keseluruhan syariat dan termasuk di dalamnya segala macam keringanan keringanan dan pengurangan pengurangan.


“Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya.” Ayat ini wallahualam, agar orang tidak berpikir bahwa puasa itu dapat dilakukan hanya dengan separuh bulan saja. Allah menolak pemikiran seperti itu dengan memerintahkan untuk menyempurnakan bilangannya, kemudian Bersyukur kepada allah saat telah sempurna segala bimbingan, kemudahan, dan penjelasanNya kepada hamba-hambaNya, dan dengan bertakbir ketika berlalu perkara tersebut, dan termasuk di dalam hal ini adalah bertakbir ketika melihat Hilal di bulan Syawal hingga selesai khutbah Id.


Referensi : https://tafsirweb.com/691-surat-al-baqarah-ayat-185.html

Keempat : QS. Al Baqarah : 187 
 
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّههُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُممْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْاا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Al Baqarah : 187)

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

187. Pada awal-awal diwajibkannya puasa, kaum muslimin diharamkan makan, minum, dan jimak (menggauli istri) pada malam hari setelah tidur, lalu sebagian mereka merasa kesulitan dengan hal tersebut, maka Allah meringankan hal tersebut dengan membolehkan mereka pada malam hari Ramadhan semua perkara itu, dari makan, minum maupun berjimak, baik setelah tidur maupun sebelumnya, karena mereka tidak dapat menahan nafsu mereka dengan cara meninggalkan beberapa hal yang mereka diperintahkan kepadanya. “maka (Dia) mengampuni,” yakni Allah “kamu” Yakni dengan melapangkan perkara itu bagi kalian dan sekiranya bukan karena kelapangan itu, pastilah akan menimbulkan dosa, “dan memberikan maaf kepadamu,” terhadap apa yang telah berlalu dari perkara tidak mampu menahan nafsu tersebut. “Maka sekarang” setelah adanya keringanan dan kelapangan dari Allah ini, “campurilah mereka,” baik berjima, mencium, menyentuh, dan sebagainya, “dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu,” maksudnya, berniatlah untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika mencampuri istri istri kalian, dan maksud yang paling besar dari adanya jima tersebut adalah mendapatkan keturunan, menjaga kemaluannya dan kemaluan istrinya, dan juga memperoleh tujuan-tujuan nikah.


Dan diantara apa yang telah ditentukan oleh Allah atas kalian adalah lailatul qadar yang bertepatan dengan malam malam bulan puasa Ramadhan, maka seharusnya kalian tidak disibukkan oleh kenikmatan tersebut dari malam yang mulia itu dan tidak menyia-nyiakan malam tersebut, karena kenikmatan itu masih dapat diperoleh (dengan tertunda) sedangkan lailatul qadar tidak diperoleh setiap waktu.
 
“Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu Fajar.” Ini adalah batasan waktu bagi makan, minum, dan berjima.
Ayat ini juga mengandung dalil bahwa apabila seseorang makan atau minum dengan perasaan ragu tentang terbitnya Fajar, maka tidak apa-apa baginya.
 
Ayat ini juga merupakan dalil dianjurkannya sahur dengan adanya perintah dan dianjurkannya untuk diakhirkan dengan dasar yang diambil dari arti keringanan dari Allah dan kemudahan yang diberikan olehNya untuk hamba-hambaNya.
 
Ayat ini juga sebagai dalil bolehnya meneruskan puasa ketika fajar telah datang sedang ia masih junub dari berbuat jima sedangkan ia belum mandi dan puasanya tetap sah, karena konsekuensinya bolehnya hingga terbitnya Fajar, maka ia akan mendapati Fajar dalam keadaan masih junub, dan konsekuensi kebenaran adalah benar.
 
“Kemudian” apabila fajar telah terbit, maka “sempurnakanlah puasa itu,” yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, “hingga malam,” yakni terbenamnya matahari.
 
Dan ketika bolehnya berjima pada malam-malam puasa bukanlah secara umum bagi setiap orang, di mana seorang yang beri’tikaf tidaklah halal baginya melakukan hal itu, dan telah dikecualikan dalam FirmanNya, “janganlah kamu campur yg mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid,” maksudnya, kalian sedang melakukan itikaf tersebut.
 
Ayat ini menunjukkan bahwa itikaf itu disyariatkan, dan itikaf itu adalah berdiam di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah dan memusatkan perhatian hanya kepadaNya, dan bahwasanya itikaf itu tidak sah kecuali dalam masjid. Dapat dipahami dari arti masih disini adalah masjid yang dipahami oleh mereka, yaitu yang didirikan di dalamnya shalat lima waktu. Dan juga menunjukkan bahwa itu adalah diantara pembatal ibadah itikaf.
 
Hal-hal yang telah disebutkan di atas seperti haramnya makan, minum, berjima, dan macamnya dari pembatal pembatal puasa, dan haramnya berbuka karena suatu perkara yang bukan alasan syar’i, haramnya berjima bagi orang yang melakukan itikaf dan semacamnya diantara hal-hal yang diharamkan, “itulah larangan Allah” yang telah Allah tetapkan bagi hamba-hambaNya dan Dia larang darinya. Kemudian Dia berfirman, “maka janganlah kamu mendekatinya.” Ungkapan ini lebih kuat daripada perkataan “maka janganlah kamu melakukannya”, karena kata mendekati itu meliputi larangan dari mengerjakan hal yang diharamkan itu sendiri dan larangan dari sarana-sarana yang menyampaikan kepada perbuatan tersebut.
 
Seorang hamba diperintahkan untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauh darinya sejauh mungkin yang ia mampu, dan juga meninggalkan segala sebab yang mengajak kepadanya. Adapun tentang perintah perintah, Allah berfirman kepadanya, “Itulah ketentuan-ketentuan Allah maka janganlah kamu melampaui batasnya,” Allah melarang atasnya dari bertindak melampaui batas padanya. “Demikianlah,” maksudnya, Allah menjelaskan kepada hamba-hambaNya berkenaan dengan hukum-hukum yang telah berlalu itu dengan pembalasan yang paling sempurna dan menerangkannya dengan keterangan yang paling jelas, “Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.” Apabila kebenaran telah jelas bagi mereka, niscaya mereka akan mengikutinya, dan apabila kebatilan jelas bagi mereka, niscaya mereka akan menjauhinya. Manusia terkadang melakukan hal yang diharamkan karena ketidaktahuannya bahwa hal tersebut adalah haram, namun bila ia mengetahui keharamannya pasti tidak akan dilakukan. Apabila Allah telah menjelaskan ayat-ayatNya kepada manusia, maka tidak ada lagi alasan dan hujjah bagi mereka, dan hal itu agar menjadi faktor penyebab ketaqwaan.
 
Referensi : https://tafsirweb.com/697-surat-al-baqarah-ayat-187.html



8 Lankah Menyambut Ramadhan

8 Lankah Menyambut Ramadhan

Ramadhan

Dalam Surat Al Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْققَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 185)

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Siapa pun  orang yang bertemu dengannya maka akan bahagia. Bersyukur atas kehadirannya dengan memaksimalkan ibadah selama bulan Ramadhan. Karenya agar mampu menggapai pahala terbaik selama bulan Ramadhan kita perlu menyiapkan beberapa langkah untuk menyambut kedatangan bulan ramadhan yang mulia ini :

1. Bergembira dan ceria atas kedatangan Ramadhan 

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw saat Ramadhan tiba bersabda: Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, Allah telah wajibkan atas kalian puasa di siang harinya, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang (H.R. Ahmad).


2. Pengkondisian jiwa dan ruhani 

Pengkondisian jiwa dan ruhani melalui bacaan, telaah kitab dan buku, mendengar kaset Islami yang berisi ceramah atau pelajaran yang menjelaskan keutamaan-keutaam puasa dan hukum-hukumnya agar jiwa menjadi kondusif untuk taat. Rasulullah saw telah menyiapkan jiwa dan spirit para sahabat untuk optimalisasi Ramadhan pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda: Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan… (H.R. Ahmad dan Nasa-i).

3. Ilmu dan pemahaman yang baik terhadap hukum-hukum Ramadhan. 

Adalah kewajiban setiap mukmin untuk beribadah kepada Alalh SWT atas dasar ilmu dan pemahaman, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kwajiban-kewajiban yang telah Allah SWT fardhukan atas hamba-hamba-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah puasa Ramadhan. Karenanya, seyogyanya setiap muslim mengetahui masalah-masalah puasa dan hukum-hukumnya sebelum bulan puasa itu datang, agar puasa yang dia lakukan menjadi sah dan diterima di sisi Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui (Q.S. Al-Anbiya’)  

4. Bertaubat 

Tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa dan keburukan, serta taubat yang benar dari segala kemaksiatan, mencabut diri darinya serta tidak akan kembali kepadanya, sebab bulan Ramadhan adalah syahrut-taubah (bulan taubat), oleh karena itu, siapa saja yang tidak bertaubat pada bulan ini, kapan lagi ia akan bertaubat? "Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung" (Q.S. An-Nur: 31).

5. Memperbanyak Do’a

Diantara persiapan menyambut ramadhan adalah berdo’a, meminta agar Allah berkenan mempertemukan kita dengan bulan mulia tersebut dalam keadaan sehat wal afiyat. Sehat jasmani dan rohani. Sebagaimana Rasulullah saw saat melihat munculnya hilal yang menjadi pertanda awal bulan, beliau berdo’a: Dari Ibnu Umar ra ia berkata: Rasulullah saw jika melihat hilal beliau bersabda: Allah Maha Besar, ya Allah, jadikanlah hilal ini hilal yang membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq kepada segala hal yang dicintai dan diridhai Tuhan kami, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah" (H.R. Ahmad dan Ad-Darimi, redaksi yang dipergunakan adalah redaksinya, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dinilai shahih olehnya).


Diriwayatkan juga bahwa saat Ramadhan tiba, beliau saw berdo’a:
Ya Allah, selamatkan saya untuk Ramadhan dan selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untukku (H.R Ath-Thabarani dan Ad-Dailami).
 

Setelah kita berdoa dan doa kita dikabulkan Allah SWT, hendaklah kita istiqamah (konsisten) dengan apa yang kita minta.

6. Memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu Ramadhan. 

Imam Nawawi berkata: disunnatkan bagi siapa saja yang mendapat kenikmatan baru yang tampak jelas atau bagi yang terhindar dari cobaan yang tampak jelas untuk melakukan sujud syukur atau memperbanyak pujian kepada Allah. Dan merupakan kenikmatan terbesar saat kita mendapatkan taufiq untuk melakukan ketaatan, dan saat kita memasuki Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat adalah sebuah kenikmatan besar yang patut kita ekspressikan dengan memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT.

7. Saling memaafkan 

Sebelum memasuki bulan ramadhan, hendaknya setiap orang saling bermaaf-maafan. Agar supaya lebih tenang dalam menjalani ibadah puasa.

8. Menyiapkan bekal harta

Tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam bulan ramadhan kita membutuhkan banyak bekal harta sebab akan ada banyak hal yang kita lakukan dengan harta tersebut, seperti memperbanyak infaq dan shadaqah, membayar zakat dan tentunya belanja kebutuhan selama ramadhan dan hari raya.

Semoga Allah SWT memberikan kita semua taufik, hidayah dan inayah Nya kepada kita semua sehingga kita bisa bertemu dengan ramadhan dalam kondisi yang siap secara jiwa, raga, ilmu dan harta. Semoga Allah jadikan kita sebagai golongan orang yang mendapatkan predikat taqwa. Aamiin


Kunci Meraih Manisnya Iman

Kunci Meraih Manisnya Iman

 
Kunci Meraih Manisnya Iman

Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka. Pertanyaannya, sudahkan tiga hal tersebut ada pada dii kita?
 
Manisnya Iman
Iman itu manis, bahkan lebih manis dari madu, manisnya iman hanya akan dirasakan oleh mereka yang memiliki iman yang kuat, manisnya iman juga dapat diartikan dengan merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits shahi Bukhari disebutkan  :
 
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
            
Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”(HR.Bukhari)
 
Seseorang akan benar-benar merasakan nikmatnya iman, manisnya iman jika terdapat tiga hal dalam dirinya. Pertama Menjadikan Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari selainnya. Iman baru akan dirasakan manisnya jika cintanya kepada Allah dan Rasulnya itu melebihi dari kecintaannya kepada yang lain, seperti harta, tahta, wanita (istri/suami), anak, dan lain sebagainya.
 
Bisa kita lihat bagaimana istrrinya Yasir ibunda dari Ammar bin Yasir yaitu sumayyah yang syahid setelah disiksa dan ditusuk demi mempertahankan imannya. Contoh lain juga bisa kita lihat Bilal bin Rabah yang disiksa ditengah padang pasir dengan terik matahari yang begitu menyengat hingga sampai akhirnya ditindih dengan batu besar, tapi Bilal bin Rabah tetap teguh akan keyakinannya justru ia terus mengucapkan kata “Ahad” yang bertarti Allah Maha Esa. Contoh lain seperti  Khabab bin Al Art seakan tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib. Maka ketika diminta pendapatnya bagaimana jika Rasulullah yang menggantikannya, ia menjawab dalam nada manisnya iman: “Bahkan aku tak rela jika kaki Rasulullah tertusuk duri”
 
Kedua, Mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Sering sekali kecintaan kita kepada yang lain melalaikan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Boleh kita cinta kepada anak, istri/suami, harta, tahta, jabatan dan lain sebagainya tapi jangan pernah menjadikan itu semua sebagai tandingan cinta kita kepada Allah dan Rasulnya. Oleh karena itu cintailah semua itu karena Allah maka Insya Allah manisnya iman pun dapat dirasakan.
 
Ketiga, Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka. Manisnya iman juga baru akan dirasakan jika kita mampu berpegang teguh terhadap keyakinan yang kita miliki. Itulah sebabnya Rasulullah sering menasehati para sahabatnya agar tidak kembali jahiliyyah seperti sebelum mereka mendapatkan hidayah (kembali murtad). Orang yang benci akan kemurtadan sebagaimana ia benci jika dilemparkan kedalam neraka maka berarti ia telah merasakan manisnya iman dalam dirinya.
 
Sikap kita?
Oleh karena itu, jika ingin merasakan manisnya iman dan keteguhan dalam menjaga iman hendaknya jadikan Allah dan Rasul-Nya lebih kita cintai dari yang lain, saling mencintai dan menyayangi hanya karena Allah dan benci terhadap kemurtadan seperti ia benci jika dilemparkan kedalam Neraka.
Syukur dan Sikap Orang yang Beriman

Syukur dan Sikap Orang yang Beriman

 
Syukur

 
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
 
Syukur  ciri mukmin yang taat
Sadar atau tidak, kita bisa melihat sesuatu yang indah, pemandangan yang indah dengan mata yang kita miliki merupakan sebuah nikmat besar dari Allah SWT. Kita bisa berbicara juga merupakan nikmat besar dari Allah SWT. Kita bisa mendengar suara-suara yang indah seperti lantunan ayat-ayat Al-Quran, lantunan nasyid dan lain sebagainya juga merupakan nikmat besar dari Allah SWT. Kita bisa mencium bau-bau baik yang harum maupun yang tidak tidak harum juga merupakan nikmat besar dari Allah SWT. Kita bisa berjalan serta mengayunkan tangan kita untuk hadir dalam sebuah majlis ilmu juga merupakan nikmat besar dari Allah SWT. Apapun yang kita rasakan, ita lihat, kita dengar, merupakan nikmat besar dari Allah SWT. Pertanyaannya adalah, bagaimana sikap kita akan nikmat tersebut? Sudahkah kita mensikapi nikmat tersebut sesuai dengan yang diajarkan syariat islam?
 
Sungguh, dari sekian banyak ciri seorang yang beriman adalah syukur, syukur yang senantiasa kita ucapkan dengan lisan kita dengan ucapan Alhamdulillah, maupun syukur yang kita implementasikan dengan segenap anggota badan kita, dan seluruh jiwa serta kesadaran kita melalui bentuk-bentuk peribadahan kita pada Allah SWT, baik berupa ibadah mahdah ataupun sunnah.
 
Sungguh, Allah telah berjanji untuk menambah nikmat-Nya bagi setiap hamba yang senantiasa bersyukur akan nikmat yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya. Allah SWT. Berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7 : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7).
 
Saat kita mendapatkan sebuah kebaikkan (nikmat), banyak diantara kita lalai untuk mensyukurinya, namun saat kita mendapat keburukan, tak sedikit dari kita yang justru mencaci maki Allah SWT., masih banyak diantara kita yang menganggap Allah tidak adil dengan keadaan kita, masih banyak diantara kita yang menganggap Allah itu adil jika sesuai dengan yang kita inginkan.
 
Sadarilah wahai saudaraku………….
Sadarilah bahwa sesuatu yang kita anggap baik itu belim tentu baik bagi kita menurut-Nya, dan sesuatu yang kita anggap buruk itu belum tentu buruk bagi kita menurut-Nya, boleh jadi yang menurut kita baik justru itulah yang buruk bagi kita dan boleh jadi yang menurut kita buruk justru itulah yang terbaik bagi kita.
 
Yakinlah bahwa keadaan kita saat ini adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah SWT.
 
Saudaraku………
Sungguh Allah sangat cinta kepada kita, bukti cinta itu tertuang dalam naungan kasih saying-Nya, berbagai macam nikmat yang kita dapatkan merupakan bentuk cinta-Nya pada kita.
 
Sikap kita…….?
Banyak nikmat yang telah kita dapatkan, sehingga sudah seharusnya kita sikapi dengan syukur baik secara lisan maupun perbuatan. Allah senantiasa mengingatkan kita untuk seantiasa bersyukur atas nikmat-Nya “ nikmat mana lagi yang engkau dustakan?” Karenanya sebagai orang yang beriman, maka kita harus bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua.
MULIA DENGAN AL QURAN

MULIA DENGAN AL QURAN

MULIA DENGAN AL QURAN



Allah SWT Berfirman : "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).." (QS. Al Baqarah : 185)

 

Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW memiliki beberapa fungsi yang sangat penting bagi umat manusia. Berikut adalah  fungsi Al-Quran sebagaimana firman Allah SWT diatas :

Pertama : sebagai petunjuk. Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi terakhir yakni Rasulullah Muhammad SAW adalah sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya dan sebagai petunjuk bagi manusia seluruhnya. Allah memberikan petunjuk kepada umat manusia agar tidak tersesat dalam meniti kehidupan dan dengan petunjuk itu maka manusia yang mau mengikutinya akan menjadi mulia dengan Taqwa. Taqwa adalah sebuah predikat atau titel yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat dan patuh akan perintahnya. dalam QS. Al-Baqarah Ayat 2 dijelaskan bahwa Al-Quran tidak ada keraguan didalamnya sehingga jangan pernah ragu untuk terus mengikuti petunjuk yang Allah berikan melalui Al-Quran.

Kedua : sebagai Penjelas. fingsi Al-Quran selain sebagi petunjuk juga sebagi penjelas dari petunjuk itu sendiri. Allah SWT dalam memberikan petunjuk disertai dengan penjelas agar supaya lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh hamba-hamba-Nya sehingga dengan adanya penjelasan dari petunjuk tersebut manusia akan sadar dan patuh untuk melaksanakan Perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ketiga : sebagi pembeda.fungsi lain dari Al-Quran adalah sebagi pembeda, yang mana Al-Quran sangat berbeda dengan kitab-kitab lainnya. sebagi bukti bahwa Al-Quran sejak pertama kali diturunkan hingga nanti akhir zaman tidak akan pernah berubah dan tidak akan ada yang merubah, sebab Allah yang menurunkannya dan Allah juga yang menjaganya melalui para Hafidz dan Hafidzah sehingga tidak akan mungkin di rubah meski satu huruf pun. berbeda dengan kitab-kitab lainnya yang saat ini sudah mengalami perubahan yang signifikan. banyak kitab yang telah dirubah oleh tangan-tangan manusia.

Dengan demikian, maka jika ingin menjadi manusia yang mulia disisi Allah SWT adalah dengan mengikuti petunjuk-Nya dengan cara belajar membaca, memahami serta mengamalkan Al-Quran dengan baik dan benar serta Ikhlas hanya karena Allah semata. Semoga bermanfaat. Amiin.

DO'A MUDAH MENGHAFAL AL QURAN

DO'A MUDAH MENGHAFAL AL QURAN

 

DO'A MUDAH MENGHAFAL AL QURAN

 DO'A MUDAH MENGHAFAL AL QURAN

Salah satu adab terhadap al Quran adalah senantiasa berdo'a sebelum membaca dan menghafalnya. Berdo'a agar Allah mudahkan dalam belajar membaca dan menghafalnya, berdo'a agar Allah berikan keberkahan dan kemuliaan dengan Al Quran.

Berikut adalah do'a agar Allah SWT mudahkan dalam menghafal Al Quran :

 

اللهُمَّ ارْحَمْنِيْ بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِيْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَالاَ يَعْنِيْنِيْ

وَارْزُقْنِيْ حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّيْ ,

اللهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ لاَ تُرَامُ ,

أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلاَلِ وَنُوْرِ وَجْهِكَ

أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِيْ حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِيْ وَارْزُقْنِيْ أَنْ أَتْلُوَهُ عَلىَ النَّحْوِ الَّذِيْ يُرْضِيْكَ عَنِّيْ ,

اللهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ لاَ تُرَامُ ,

أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلاَلِ وَنُوْرِ وَجْهِكَ

أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِيْ وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِيْ وَأنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِيْ

وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِيْ وَأَنْ تَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِيْ ،

فَإِنهَّ ُلاَ يُعِيْنُنِيْ عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلاَ يُؤْتِيْهِ إِلاَّ أنْتَ

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Pengertiannya :

Ya Allah cucurilah rahmat-Mu ke atasku dengan meninggalkan maksiat kepada-Mu selama mana Engkau kurniakan kehidupan kepadaku , juga janganlah Engkau bebaniku dengan sesuatu yang tidak berfaedah , dan kurniakanlah kami pandangan yang baik (dalam semua perkara kehidupanku) sehingga Engkau meredhai dan memberkatiku .

Ya Allah Tuhan Yang mencipta langit dan bumi , Tuhan Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan , Kekuatan yang diinginkan, aku mohon kepada-Mu Ya Allah Yang Maha Pengasih dengan keagungan dan sinaran cahaya wajahmu , semoga Engkau menguatkan ingatan hatiku agar dapat menghafaz kitab-Mu (al-Qur’an) sebagaimana Engkau ajarkankan kepadaku , dan anugerahilah kepadaku kemahiran membacanya sebagaimana yang Engkau redhai dan kehendakki.

Ya Allah Tuhan Yang mencipta langit dan bumi , Tuhan Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan , Kekuatan yang diinginkan , aku mohon kepada-Mu Ya Allah Yang Maha Pengasih dengan keagungan dan sinaran cahaya wajahmu,

Semoga Engkau (dengan keberkatan al-Qur’an ) terangilah pandanganku , lancarkanlah ucapan lidahku , hindarilah hatiku dari segala bentuk kegelisahan , lapangkanlah dadaku , dan berikanlah aku kekuatan untuk beramal dengan perintah-Mu sebagaimana yang terkandung di dalam al-Qur’an ,

Sesungguhnya tiada yang dapat membantuku melaksanakan kebenaran melainkan diri-Mu , dan tiada yang dapat memberi sesuatupun melainkan Engkau , tiada daya dan kekuatan melainkan dengan bantuan dari-Mu

Salam sejahtera ke atas Penghulu kami Nabi Muhammad s.a.w., juga keluarga dan seluruh sahabat Baginda .

(Tirmidhi Chapter Dua for Hifz, Hadith Hasan

Tips Mudah Menghafal Al-Quran

Tips Mudah Menghafal Al-Quran

Tips Mudah Menghafal Al-Quran


Berbagai pertanyaan masih sering terlontar saat seseorang memiliki keinginan untuk menghafal Al-Quran. Pertanyaan yang sering timbul seperti “kenapa ya menghafal Al-Quran ko’ susah?”, gimana sih cara menghafal Al-Quran yang mudah atau praktis?”, gimana sih cara menjaga Al-Quran yang telah kita hafal?” dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.


Menghafal al Quran adalah suatu hal yang sangat baik dan ada keberkahan didalamnya. Sebab Allah tidak hanya memberikan pahala dari setiap huruf yang di baca dan di hafalkan, lebih dari itu Allah SWT memberikan jaminan perlindungan di akhirat dan termasuk golongan yang akan Allah masukkan kedalam Surga Nya yang Mulia. Berikut adalah beberapa tips mudah menghafal al Quran yang terangkum dari sebuah buku metode mudah menghafal al Quran.


Pertama, Niat karena Allah SWT. Sebelum menghafal Al-Quran, maka perlu adanya niat yang kuat dan benar serta niatkanlah anda menghafal Al-Quran dengan ikhlas karena Allah semata. Sebab jika menghafal al Quran diniatkan untuk mendapatkan dunia semata, maka justru kerugian yang akan didapat dan keberkahan pun akan hilang.


Kedua, Yakin Mampu Menghafal. Selain niat, maka anda juga harus yakin bahwa anda pasti mampu menghafal Al-Quran, sebab Allah akan memberi kemudahan bagi mereka yang mau menghafal kalam-Nya. Dalam al Quran Allah SWT berfirman : “dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang-orang yang mengambil pelajaran. (Al-Qomar [54]: 17). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (ad-dukhan : 57). Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya”

 

Ketiga, Membagi surat yang akan dihafal. Tahap ini merupakan tahap pertama dalam menghafal Al-Quran. Sebelum menghafal, maka bagilah surat yang akan anda hafal kedalam beberapa bagian yang terdiri dari beberapa ayat. Untuk mempermudah, anda bisa melakukan hal berikut :

a. Menghafal bagian pertama. Setelah membagi surat kedalam beberapa bagian seperti diatas, maka mulailah menghafal pada bagian yang pertama sampai benar-benar hafal (bisa dilakukan dengan membaca berulang-ulang dan mengulanginya tanpa melihat nash Al-Quran)

b. Menghafal bagian kedua. Tahap selanjutnya adalah menghafal pada bagian yang kedua sampai benar-benar hafal dengan cara seperti pada pint pertama

c. Menggabungkan dua bagian yang telah dihafal. Pada tahap ini yang harus anda lakukan adalah menggabungkan dua bagian yang telah anda hafal tersebut, kemudian ulangi beberapa kali sampai anda yakin betul bahwa anda telah hafal dengan baik.

d. Melanjutkan bagian yang ketiga dan seterusnya. Pada tahap berikutnya, maka lakukanlah seperti yang terdapat pada poin b dan c

Tahap menjaga hafalanbAl Quran :
Untuk tahap pengutan hafalan, maka yang perlu dilakukan adalah mengulangi hafalan yang sedang anda hafal pada setiap kesempatan dimanapun dan kapanpun kecuali pada tempat-tempat yang dilarang untuk membaca Al-Quran. Selain itu, yang harus anda lakukan juga adalah memperbanyak mendengar bacaan-bacaan Al-Quran, baik melalui mp3, tape, CD, Youtube, atau media lainnya karena hal tersebut dapat membantu anda dalam memperbaiki bacaan Al-quran serta penguatanya juga.


Tidak kalah pentingnya adalah anda harus memahami setiap ayat yang anda baca dan yang anda hafal, karena itu juga akan sangat membantu anda dalam menjaga Al-Quran yang anda hafal termasuk memurajah Al-Quran setiap sebelum tidur malam hari. Untuk waktu menghafal, maka tergantung pada diri anda, carilah waktu yang pas untuk menghafal Al-Quran, misalnya seperti setelah sholat tahajud atau pada waktu-waktu lainnya.

Cara Menjaga Hafalan Al-Quran Agar Tetap Kuat dan Tidak Mudah Lupa

Cara Menjaga Hafalan Al-Quran Agar Tetap Kuat dan Tidak Mudah Lupa

 

Cara Menjaga Hafalan Al-Quran

Cara Menjaga Hafalan Al-Quran Agar Tetap Kuat dan Tidak Mudah Lupa

Menghafal Al-Quran tidak hanya melibatkan upaya untuk menghafal ayat-ayatnya, tetapi juga menjaga hafalan agar tetap kuat dan tidak mudah lupa. Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda menjaga hafalan Al-Quran dengan baik:

1. Rutinitas Pemeliharaan Hafalan: Tetapkan jadwal harian untuk mengulang hafalan yang telah Anda kuasai. Dalam rutinitas ini, luangkan waktu setiap hari untuk secara reguler membaca dan mengulang hafalan. Ini akan membantu mempertahankan kualitas hafalan dan meningkatkan kemampuan mengingatnya.

2. Baca Secara Teratur: Selain mengulang hafalan yang sudah Anda kuasai, luangkan waktu untuk membaca Al-Quran secara rutin setiap hari. Membaca Al-Quran secara teratur akan membantu mempertahankan dan memperkuat hafalan Anda serta meningkatkan pemahaman terhadap ayat-ayat-Nya.

3. Bimbingan dan Pertemuan dengan Guru: Jika memungkinkan, perlu juga untuk terus berhubungan dengan guru atau hafidz yang berpengalaman. Melalui pertemuan dan bimbingan mereka, Anda dapat memperbaiki dan meningkatkan hafalan serta mendapatkan nasihat yang berharga dalam menjaga hafalan Al-Quran.

4. Berenang di Lautan Al-Quran: Selain menghafal, selalu jadikan Al-Quran sebagai bacaan rutin Anda. Jelajahi berbagai surat dan bagian Al-Quran untuk memperkuat pemahaman dan pengetahuan Anda tentang kitab suci ini. Semakin luas pengetahuan Anda, semakin mudah Anda mengaitkan dan mengingat ayat-ayat yang telah Anda hafal.

5. Teks Cetak dan Aplikasi Digital: Gunakan teks cetak dan aplikasi digital Al-Quran sebagai alat bantu. Teks cetak mungkin lebih nyata dan memberikan pengalaman tersendiri, sementara aplikasi digital dapat memberikan kemudahan dalam mengakses dan menyimpan hafalan di berbagai perangkat. Pilihlah yang paling nyaman bagi Anda.

6. Kelompok Hafalan: Bergabunglah dengan kelompok hafalan di masjid atau komunitas setempat. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama akan memberikan dorongan moral dan dukungan untuk tetap konsisten dalam menjaga hafalan Al-Quran. Belajar dari pengalaman dan tips mereka juga bisa sangat berharga.

7. Berdoa dan Tawakal: Doa menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga hafalan Al-Quran. Minta kepada Allah SWT agar Dia memberikan kemudahan dan keberkahan dalam hafalan Anda. Tawakallah kepada-Nya dan percayalah bahwa dengan pertolongan-Nya, hafalan Anda akan tetap kuat dan tidak mudah lupa.

8. Jaga Kebersihan Hati dan Amalkan Nilai Al-Quran: Jaga kebersihan hati dan amalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran. Ini membantu menciptakan ikatan emosional dengan hafalan Anda, sehingga Anda lebih cenderung mengingatnya dengan baik.

Menjaga hafalan Al-Quran membutuhkan usaha yang konsisten dan kesabaran. Dalam perjalanan ini, jangan lupa berlindung kepada Allah SWT, teruslah berdoa, dan tawakallah kepada-Nya. Dengan usaha dan izin-Nya, hafalan Al-Quran Anda akan tetap kuat dan tidak mudah lupa. Semoga tips di atas bermanfaat dalam menjaga hafalan Al-Quran Anda. Wallahu a'lam.

Cara Menghafal Al Quran yang Baik dan Mudah

Cara Menghafal Al Quran yang Baik dan Mudah

 


Cara Menghafal Al-Quran yang Baik dan Mudah

Cara Menghafal Al-Quran yang Baik dan Mudah 

Menghafal Al-Quran adalah salah satu usaha mulia yang dilakukan oleh umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, menghafal Al-Quran bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan kesabaran serta upaya yang konsisten. Berikut ini adalah beberapa langkah dan tips yang dapat membantu Anda menghafal Al-Quran dengan baik dan mudah:

1. Niat dan Motivasi yang Kuat: Awali proses menghafal Al-Quran dengan niat yang tulus ikhlas, hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Jadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup dan motivasi utama dalam perjalanan menghafal.

2. Membaca dengan kelancaran: Sebelum memulai menghafal, pastikan Anda sudah mahir membaca Al-Quran dengan kelancaran dan benar. Bila perlu, cari bimbingan dari seorang guru atau hafidz untuk memperbaiki tajwid dan makhraj huruf.

3. Tentukan Program Hafalan: Buatlah program hafalan yang terstruktur dan realistis. Mulailah dengan juz atau bagian Al-Quran yang paling pendek, dan secara bertahap tingkatkan hafalan Anda seiring dengan kemampuan dan waktu yang Anda miliki.

4. Pelajari Tafsir Al-Quran: Penting bagi Anda untuk memahami makna dan tafsir ayat-ayat Al-Quran yang Anda hafal. Memahami dan merenungkan ayat-ayat Allah akan membantu menanamkan hafalan secara lebih dalam serta memberikan pengertian yang lebih dalam tentang ajaran-Nya.

5. Rutinitas Harian: Tetapkan jadwal harian untuk menghafal Al-Quran. Disiplin dalam menjalani jadwal akan membantu Anda tetap konsisten dan terus memperbaiki hafalan serta menghindari kebingungan.

6. Baca Secara Berulang-ulang: Bacalah ayat-ayat yang ingin Anda hafal berulang-ulang. Membaca secara berulang-ulang akan membantu otak Anda memperkuat dan menyimpan informasi dengan lebih baik.

7. Membagi Hafalan: Pecah hafalan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil agar lebih mudah diingat. Fokuskan pada hafalan satu bagian hingga benar-benar dihafal sebelum melanjutkan ke bagian selanjutnya.

8. Menggunakan Metode Asosiasi: Gunakan metode asosiasi atau visualisasi saat menghafal. Buatlah koneksi antara ayat-ayat dengan gambaran visual atau cerita dalam pikiran Anda. Ini dapat membantu memperkuat ingatan.

9. Hafalan dengan Bimbingan: Jika memungkinkan, carilah bimbingan dari seorang guru atau hafidz yang berpengalaman. Mereka dapat memberikan arahan, membantu memperbaiki bacaan, serta memberikan nasihat yang berharga dalam proses menghafal.

10. Berdoa dan Tawakal: Selalu berdoa kepada Allah SWT untuk memudahkan proses menghafal dan menghafalkan Al-Quran dengan baik. Penuhi proses dengan doa, tawakal, dan harapan yang tulus kepada-Nya.

Menghafal Al-Quran adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Ingatlah untuk tidak terburu-buru dan menghargai setiap langkah kecil yang Anda capai. Tetaplah konsisten, jaga semangat, dan percayalah bahwa dengan izin Allah SWT, Anda bisa menghafal Al-Quran dengan baik dan mudah. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi Anda dalam menghafal Al-Quran. Wallahu a'lam.

Kemuliaan Orang yang Menghafal dan Belajar Al-Quran

Kemuliaan Orang yang Menghafal dan Belajar Al-Quran

  Menghafal dan Belajar Al-Quran


Kemuliaan Orang yang Menghafal dan Belajar Al-Quran

Menghafal dan belajar Al-Quran adalah sebuah amalan yang mulia dan diberkahi dalam agama Islam. Orang-orang yang menekuni dan mengabdikan diri dalam mempelajari dan menghafal Al-Quran memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah SWT serta dihormati dalam masyarakat Muslim. Berikut ini adalah beberapa kemuliaan orang yang menghafal dan belajar Al-Quran:

1. Kedekatan dengan Allah SWT: Menghafal dan belajar Al-Quran membawa seseorang lebih dekat kepada Allah SWT. Al-Quran adalah firman-Nya, wahyu yang suci, dan dengan setiap ayat Al-Quran yang dihafal dan dipelajari, seseorang semakin mendekat kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah [2:185], "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

2. Pahala yang Luar Biasa: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka dia mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan." (HR at-Tirmidzi) Setiap huruf yang dihafal dan dibaca dalam Al-Quran, orang yang menghafalnya akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Semakin banyak ayat yang dihafal, semakin besar pula pahala yang akan diperoleh.

3. Menjadi Penyebar Kebaikan: Orang yang menghafal dan belajar Al-Quran memiliki kesempatan besar untuk menjadi duta dan penyebar kebaikan. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran Al-Quran, mereka menjadi contoh yang baik bagi orang lain dan mampu mempengaruhi masyarakat sekitar dengan kebaikan dan akhlak yang terpuji.

4. Keutamaan di Hadapan Allah SWT: Orang yang menghafal dan belajar Al-Quran memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Mereka dihormati dan dianggap istimewa karena telah menunaikan kewajiban untuk mengenal, memahami, dan mengamalkan firman-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang mahir membaca Al-Quran akan berada bersama-sama para malaikat yang mulia dan taat, dan barangsiapa yang takwa kepada Allah SWT akan memiliki kedudukan yang tinggi." (HR Muslim)

5. Penjaga dan Hafidz Al-Quran: Orang yang menghafal dan belajar Al-Quran telah menjaga Al-Quran dari hilangnya ayat-ayat yang suci dan karenanya mereka akan menjadi penjaga Al-Quran. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, bahkan semut-semut di sarangnya dan ikan-ikan di lautan mendoakan keberkahan untuk orang yang mengajar Al-Quran dan mempelajarinya." (HR at-Tirmidzi)

6. Keberkahan dalam kehidupan: Al-Quran adalah petunjuk hidup yang membawa keberkahan dan rahmat Allah SWT. Orang yang menghafal dan belajar Al-Quran akan merasakan keberkahan ini dalam setiap aspek kehidupan mereka. Mereka akan diberikan kemudahan, kejernihan pikiran, ketenangan hati, serta kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup.


Orang yang menghafal dan belajar Al-Quran memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT serta dihormati dalam masyarakat Muslim. Dengan mempelajari dan menghafal Al-Quran, mereka mendapatkan pahala yang besar, menjadi duta kebaikan, dan menikmati keberkahan dalam kehidupan mereka. Semoga kita semua diberikan kemudahan dan kesempatan untuk mempelajari serta menghafal Al-Quran dengan baik. Wallahu a'lam.